Membuka Ruang Kesetaraan: Pendidikan Perempuan dalam Sorotan RBC AMF Institute
28-04-2026 16:56
Membuka Ruang Kesetaraan: Pendidikan Perempuan dalam Sorotan RBC AMF Institute
RBC AMF Institute – Di sebuah ruang sederhana di sudut Kota Malang, suara-suara perempuan mulai terdengar. Bukan dalam bentuk orasi lantang, melainkan lewat kalimat-kalimat yang jujur, pelan, namun penuh daya.
Di sanalah, penulis dan kolumnis gender Kalis Mardiasih bersama RBC A. Malik Fadjar Institute menggelar Kelas Menulis Perempuan — sebuah ruang belajar yang tak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga mengajak peserta berdamai dengan dirinya sendiri.
Diselenggarakan pada Selasa sore Selasa 29 Juli 2025 di Working Space RBC A. Malik Fadjar Institute, kelas ini menghadirkan atmosfer yang hangat dan intim. Puluhan peserta datang dari berbagai latar belakang: karyawan, mahasiswa, peneliti, aktivis komunitas, hingga perempuan muda yang baru belajar merangkai kata. Mereka datang membawa keresahan, pengalaman hidup, dan dorongan untuk mulai menuliskannya.
“Menjadi perempuan hari ini tidak mudah. Kami percaya, menulis bisa menjadi cara menyelamatkan diri sekaligus menyuarakan yang tak terdengar,” ucap Kalis membuka kelas.
Dengan pendekatan reflektif dan diskusi terbuka, Kalis mengajak peserta menggali ide dari pengalaman pribadi, membangun logika tulisan dengan emosi yang tertata, hingga menyentuh aspek personal branding secara halus namun strategis. Bukan sekadar teori, melainkan proses meraba luka, memahami perasaan, dan memaknainya melalui tulisan.
Direktur Eksekutif RBC A. Malik Fadjar Institute, Subhan Setowara, menyambut kolaborasi ini sebagai bagian dari gerakan cegah, lawan, rangkul. Ia mengatakan bahwa literasi tak cukup hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. “Literasi adalah keberanian menyuarakan pengalaman. Kolaborasi ini adalah upaya kami menciptakan ruang aman agar perempuan bisa menulis dan mencatat hidupnya dengan jujur dan berani,” ujarnya.
Tak hanya itu, inisiatif ini juga merupakan bagian dari strategi RBC A. Malik Fadjar Institute untuk mempertemukan pemikiran progresif dengan komunitas akar rumput. Mereka percaya, tulisan dari pengalaman perempuan punya kekuatan membongkar ketimpangan, membuka ruang dialog, dan mengubah cara pandang masyarakat secara perlahan namun signifikan.
Sepanjang sesi, ruang kelas dipenuhi energi empati. Para peserta saling mendengar, saling mengangguk, bahkan tak jarang saling menitikkan air mata. “Baru kali ini saya merasa keresahan saya valid. Ternyata boleh ya, menulis dari perasaan sendiri,” ujar salah satu peserta dengan mata berbinar.
Kelas ditutup dengan sesi berbagi pengalaman keperempuanan. Dari cerita-cerita yang semula disimpan dalam diam, muncul narasi-narasi baru yang siap dituliskan. Bagi banyak peserta, kelas ini lebih dari sekadar pelatihan menulis. Ia adalah ruang penyembuhan, penguatan, dan keberanian untuk mencatat hidup yang sering kali dianggap tak penting oleh dunia.
RBC A. Malik Fadjar Institute berharap langkah kecil ini bisa menjalar ke kota-kota lain. Karena setiap perempuan, di manapun ia berada, berhak punya ruang untuk menulis dan diperdengarkan. (#)
Jurnalis Manda Danastri Penyunting Mohammad Nurfatoni, Ahmad Affan Haris
Source: Tagar.Co
Berita